Jelajah Cianjur Selatan, Garut Selatan dan Bandung Selatan Bagian 8: Situ Cileunca

Table of Contents
Trip kali ini melanjutkan trip jelajah Cianjur Selatan, Garut Selatan dan Bandung Selatan yang saya lakukan tahun lalu. Kali ini trip dimulai 13-16 April 2019, tadinya mau lanjut sampai 21 tapi tanggal 17 adalah Pilpres jadinya tanggal 16 harus kembali untuk nyoblos.


Bersama Revan dan Ringgo, kami berangkat dari Bogor Sabtu, sekitar jam 5.15 pagi melewati tol Jagorawi-Cikampek dan macet parah mulai memasuki Cikampek hingga KM 45 karena masih berlangsungnya pembangunan Elevated Toll. Selepas Cikampek terus memasuki tol Purbaleunyi dan di lajut tol Soreang. Keluar Soreang kita mengarah ke Ciwidey. Di pertigaan jika lurus ke Ciwidey kita ambil ke kiri ke arah Pengalengan. Dari Soreang ini ke Pengalengan ini masih berjarak sekitar 30km atau 1 jam perjalanan.



Kondisi jalan memasuki wilayah dataran tinggi tentu saja berbelak-belok dan naik-turun. Hampir tengah hari kami mulai memasuki Pengalengan dan beristirahat sejenak buat makan siang di salah satu warung makan Sunda yang lumayan enak dan ramai di sisi kiri jalan. Melanjutkan perjalanan, nanti kita sampai di pertigaan dimana kekiri ke arah pemandian air panas, dan pembangkit litsrik tenaga panas bumi Wayang Windu serta yang lagi hits rumah tua tempat shooting film Pengabdi Setan. Nah kurang tertarik yang begitu, kami terus ke arah Situ Cileunca yang tidak berapa jauh lagi. Kebetulan juga jalur ini adalah jalur kami selanjutnya menuju Curug Cisewu dan Pantai Ranca Buaya di Garut nantinya. Sebelum sampai ke Situ kami mampir dulu mengisi perut sekaligus beristirahat di sebuah rumah makan Sunda yang terlihat ramai.

Menikmati makan pagi plus siang
Sampai di Situ Cileunca, hal pertama yang kami lakukan pastinya mencari penginapan. Ternyata agak susah mencari penginapan di sini. Biasanya penginapan-penginapan sudah di booking oleh wisatawan yang datang berkelompok-kelompok apalagi pas weekend begini. Umumnya wisatawan datang untuk ke sini ber-arung jeram. Melihat banyak sekali wisatawan yang hilir mudik menggunakan life vest sepertinya mereka sudah datang dari pagi-pagi sekali di sini. Setelah memutari situ sampai 2x akhirnya kami mendapatkan penginapan tepat berada di samping gerbang utama Situ Cileunca. Penginapan yang biasa dipakai untuk gathering sehingga kami bisa check-in setelah mereka bubar sekitar jam 2 lewat.



Info singkat, sebenarnya Situ Cileunca adalah danau buatan tepatnya adalah sebuah bendungan yang dibuat oleh seorang tuan tanah Belanda bernama Kuhlan. Dengan membendung Sungai Cileunca dan membabat hutan di desa Warnasari dan Pulosari, situ ini dibuat selama 7 tahun (1919-1926) dan uniknya pembuatannya menggunakan Halu, yanitu alat untuk penumbuk padi. Situ ini dibuat untuk memenuhi kecukupan air si tuan tanah yang mempunyai tanah seluas 1.400Ha di Pengalengan. Danau ini dikelilingi oleh Perkebunan Teh Malabar yang sekarang dikelola oleh PTPN VIII. Juga, situ ini airnya dimanfaatkan oleh Indonesia Power untuk PLTA yang airnya dialirkan melalui Sungai Palayangan yang juga dijadukan ajang ber-arum jeram. Situ ini mempunyai kedalaman 17m (terdalam).


Salah satu spot yang bagus di sini adalah adanya jembatan penghubung antara Desa Warnasari dan Desa Pulosari. Boleh dikata, jembatan ini juga membelah danau menjadi 2. Di pinggir danau di arah desa Warnasari terdapat dam yang bisa dipakai untuk motor atau sekedar berjalan kaki di pinggir danau. Di bawah dam ini merupakan tanah milik Indonesia Power jadi hanya terlihat satu dua rumah di sini dan area di depan dam jauh lebih rendah dibanding permukaan situ. Sore hari area dam/jembatan ini dijadikan ajang berkumpul anak-anak muda.
Jalan sore di Dam Pulo
Jembatan penghubung Desa Warnasari dan desa Pulosari
Selain berarung jeram, pengunjung juga bisa berkemah di depan danau, melewati gerbang utama. Kalau kalian ingin berkemah harap membawa peralatan lengkap untuk mengusi hawa dingin, untuk makanan tidak usah kuatir karena di sepanjang jalan banyak yang berjualan. Bangun pagi-pagi kita bisa menyaksikan sunrise dari pinggir danau. Untuk masuk ke area wisata kita dikenakan tiket Rp. 5.000/orang, kalau pagi-pagi bisa gratis karena belum ada yang jaga loket. Pagi hari kita bisa menyaksikan kabut tipis dipermukaan danau. Beberapa perahu tua di tengah danau yang dibiarkan hancur bisa menjadi keunikan tersendiri ketika mengambil foto.
Berfoto di Situ di kala sunrise
Berfoto di Situ di kala sunrise
Habis sarapan pagi kami langsung check-out, melanjutkan perjalanan ke arah Garut. Melewati jalur Pengalengan-Garut agak mirip dengan jalur Ciwidey-Cianjur Selatan. Kita akan melewati perkebunan teh yang sangat cantik namun sangat sepi.  Kami berhenti sebentar di salah satu spot untuk menikmati keindahan perkebunan teh di sini. Dari atas terlihat perkebunan teh seluas mata memandang dengan latar perbukitan berlapis-lapis, sangat menyegarkan mata. Selanjutnya kami menuju Pantai Ranca Buaya via Talegong-Cisewu. Hanya saja kita harus berhati-hati terutama ketika musim hujan karena di jalur ini sering terjadi longsor.




Post a Comment